Rerasan

Bencana yang selalu saja simpang siur namun secara sistemati sepertinya akan meruntuhkan apapun yang sudah dibangun. Bukan tidak mungkin karena ulah para manusia sendiri, namun manusia yang mana. Banyak orang mempercayai bahwa bencana adalah jawilan atau ujian atau bahkan cobaan tuhan kepada mahluknya. Siapa yang bisa tahu ketika pepohonan di Papua itu yang menebang bukan orang Papua melain orang yang berada di belahan bumi bagian lain, lantas apakah itu bisa dinamakan sebagai cobaan atau ujian. Siapa yang diuji dan untuk apa?.

Sangat tidak menyenangkan memang, membahas permasalahan seperti itu, mungkin lebih menarik membahas tentang Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia yang memiliki harapan jauh kedepan tentang sebuah masa depan yang cerah. Tanpa bahaya atau apa yang bisa mengguncang rencana.

Hidup memang mirip seperti games, namun games yang seperti apa, apakah seperti yang banyak di alami seperti saling menipu dan membodohi, dan mengambil keuntungan atas hal itu. Celaka memang, ini benar-benar game yang sangat seru untuk dimainkan, namun tidak dimainkan toh juga tidak apa-apa.

Dipublikasi di living, thinking | Tag , , , , , , | 4 Komentar

bintang bangsaku

Sungguh, saya sedih ketika membaca hasil survey salah satu calon ortu yang saya temukan di sini. Karena saya tidak punya account multiply dan juga tidak punya data dalam buku tamu BB, terpaksa saya hanya bisa menjawab di sini dan berharap agar tulisan ini dapat dibaca oleh yang bersangkutan.

Ada empat hal penting yang tampaknya tidak dijelaskan secara gamblang oleh staf yang kompeten sehingga seorang ibu yang sedang survey untuk mencarikan sekolah anaknya memperoleh kesan yang salah tentang sistem pendidikan di Bintang Bangsaku.

Sepenuhnya bahwa kekurangkompetenan itu adalah murni kesalahan kami, karena pada dasarnya tidak ada orang yang benar-benar berfungsi sebagai administrasi maupun sebagai humasnya Bintang Bangsaku, semua guru berada di dalam kelas. Seringkali yang berada di luar adalah Kak Uwi yang masih belajar untuk menjadi pendamping khusus, Kak Rustam yang sebenarnya adalah penjaga sekolah ataupun mbak Yati yang sebenarnya bertugas untuk memasak.

Persoalan Pertama dan paling penting adalah  tentang keberadaan PR, yang kalau di Sekolah Bintang Bangsaku disebut dengan tugas (tanpa kata rumah), esensi keberadaan PR sebenarnya adalah pra dan pasca aktivitas tanpa ada kewajiban bagi anak untuk mengerjakannya, yang sebenarnya adalah usaha sekolah untuk melibatkan orang tua dalam pembelajaran anak, maksudnya sebagian besar orang tua yang anaknya bersekolah di Bintang Bangsaku adalah orang tua yang bekerja dan tidak pernah terlibat secara penuh dalam proses pembelajaran anaknya di sekolah.

Maksudnya bagaimana?

Simpel saja, seluruh aktivitas di BB sudah didesain sedemikian rupa agar sesuai dengan tahap demi tahap perkembangan anak balita, dan urusan calistung bukanlah hal yang utama justru aktivitas motorik kasar, pemecahan masalah, imajinasi, dan hal-hal lain, hal-hal yang sungguh tidak populer di kalangan orang tua. Kami mencoba mengemas aktivitas yang tidak menarik itu menjadi perhatian bagi orang tua yang jarang sekali hadir di sekolah dalam bentuk lembar-lembar yang dikumpulkan dalam Buku Tugas.

Seperti apa isinya?

Jauh sekali dari yang namanya lembar-lembar kerja yang beredar bebas di pasaran, justru lebih mirip dengan lembaran-lembaran majalah yang penuh gambar dan warna.

Apa saja isinya?

Lembar pertama biasanya berupa gambar yang mengisyaratkan tema pada hari itu sementara lembar kedua berupa gambar atau teka-teki yang berkaitan dengan tema keesokan harinya.

Harapan kami, dengan adanya lembar itu, orang tua dapat memancing cerita dari anak mengenai apa yang dialaminya hari ini dan dapat membuka diskusi mengenai hal itu. Lebih jauh lagi, kami berharap orang tua membantu kami memancing keingintahuan anak-anak mengenai tema keesokan harinya.

Tentu saja, karena tugas memancing itu adalah beban orang tua, maka anak tidak punya kewajiban untuk mengerjakannya, namun tentu saja ada reward dari kakak-kakak Bintang Bangsaku untuk anak yang mengerjakan. Reward inipun tidak segera diberikan, namun diberikan setiap 4 bulan, bersamaan waktunya dengan pembagian laporan perkembangan.

Jadi apakah ortu yang anti PR bagi anaknya perlu merasa khawatir? Tentu saja tidak, karena BB memberikan PR pada ortu, bukan pada anaknya …

Persoalan ke-dua, mengenai konsep universal versus agama:

Bintang Bangsaku menerapkan sistem pendidikan inklusi, yang tidak hanya menerima anak normal, namun juga anak-anak berkebutuhan khusus, lebih jauh lagi dengan semangat inklusi tersebut maka BB wajib menerima anak dari semua golongan tanpa membedakan suku, agama, kelompok sosial, maupun kemampuan ekonomi.

Kenapa kami memilih menjadi sekolah inklusi?

Karena kami hidup di tengah masyarakat yang heterogen di mana tidak ada satu pun orang bahkan keluarga yang sama persis satu sama lainnya, mungkin beda halnya jika kami berada dalam satu wilayah tertutup yang semuanya bersuku sama, atau beragama sama, atau punya kelompok sosial yang sama, atau memiliki kemampuan ekonomi yang sama.

Sekolah Binang Bangsaku berada di pusat kota besar, ibu kota negara Indonesia, di mana cakupan wilayahnya sedemikian luas dan isinya sangat beragam, dan semua anak dalam cakupan itu punya hak yang sama dalam menempuh pendidikan yang ideal dalam lingkup sekolah yang benar-benar ramah dalam merangkul setiap aspek perkembangannya.

Apakah itu artinya BB tidak mengajarkan agama?

Untuk tingkat usia balita memang tidak diajarkan yang kami latih adalah kepekaan moral mereka namun untuk tingkat usia yang lebih tinggi kami sudah menyediakan pelajaran agama namun, sama halnya dengan PR pelajaran ini pun tidaklah wajib hukumnya.

Masing-masing ortu memiliki hak untuk memilih agama mana yang perlu diajarkan kepada anaknya kami hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh para ortu dan mencoba mengajak anak-anak untuk dapat memaknai arti dari beragama bukan sekedar menghapal ayat ataupun perintah-perintah agama namun sampai pada “untuk apa?

Kenapa tidak wajib?

Karena pada kenyataannya, banyak keluarga yang tidak berasal dari agama yang sama entah ayah – ibunya berbeda agama, entah keluarga besarnya, entah siapa pun itu yang pasti yang mengirim anak ke BB. Bukanlah hak kami untuk menentukan agama anak-anak, siapalah kami ini selain orang-orang yang berusaha membantu anak-anak dalam pembentukan dan pembangunan karakternya.

Persoalan ke-tiga tentang gedung

Mengenai hal ini, walaupun BB berada di gedung sederhana, namun semaksimal mungkin kami berusaha untuk dapat menjadi rumah bagi anak-anak, di mana mereka bisa aman dan nyaman dalam bermain, di mana mereka bisa bebas untuk tumbuh dan berkembang dengan rasa cinta yang tanpa syarat dari kami, kakak-kakaknya.

Kenapa kami masih juga berada di gedung tua ini padahal SPP dan uang pangkal di SBB relatif mahal jika dibandingkan dengan TK lainnya?

Karena memang selama 8 tahun terakhir ini SBB lebih berfokus pada pengabdian masyarakat atau lebih tepatnya pengabdian pada anak-anak bangsa ini, Ortu SBB tahu persis hal ini sehingga ketika mereka tidak dapat membayar kewajiban sekolahnya tak ada sanksi untuk anak hanya ada sanksi bagi ortu. Nama yang terpampang di papan tulis dan denda yang setelah dikumpulkan kami sumbangkan berupa makanan dan minuman pada orang-orang yang bekerja di jalanan, yang kalau diperhatikan, jumlahnya banyak sekali di bawah jembatan dekat Shangrilla. Kesanalah uang denda itu pergi bukan masuk ke keuangan sekolah apalagi Yayasan.

Persoalan ke-empat mengenai pembiayaan SBB.

Alhamdulillah, bahwa Sekolah Bintang Bangsaku masih eksis dan dalam kesederhanaanya memberikan karya nyata untuk pembangunan karakter adik-adik tercinta. Berbagai usaha fund raising dilakukan, baik dengan para ortu lulusan BB, penulisan karya ilmiah dan kerja-kerja berjejaring positif lainnya. Bagaimanapun keyakinan memberikan dasar dan metode yang tepat secara ilmiah dalam hal ini neurosains sebagai hal sangat bermanfaat, bukannya cara-cara instan yang mewah dan mengada-ada, menjadikan semangat dan nafas kami untuk kebaikan anak bangsa.

salam,

Yanti D.P.
Kepala KB & TK Bintang Bangsaku

Dipublikasi di anak, living, thinking | Tag , , , , , | Tinggalkan Komentar

Stop dreaming malam ini start action esok hari

Lomba balapan, salip-salipan dan banter-banteran SEO akan segera berakhir, adapun posisi senin 14 September 2009 adalah seperti dibawah ini:

  1. Stop Dreaming Start Action | Annosmile dan jogloabang
    Kontes SEO Stop Dreaming Start Action Joko Susilo.
    annosmile.jogloabang.com/kontes-seo-joko-susilo-keyword-stop-dreaming-start-action.jsp
  2. Stop Dreaming Start Action | Stop Dreaming Start Action (kerjakeras.com)
  3. Stop Dreaming Start Action | Bisnis Online
  4. Stop Dreaming Start Action | ateonsoft
  5. Stop Dreaming Start Action | Stop Dreaming Start Action (nulis)
  6. Stop Dreaming Start Action | Dongeng Motivasi
  7. Stop Dreaming Start Action Kontes SEO (agunawanika)
  8. Stop Dreaming Start Action (squidoo)
  9. Stop Dreaming Start Action Joko Susilo (putraperdhana)
  10. Stop Dreaming Start Action | Stop Dreaming Start Action (syaifudinzuhri)

Stop Dreaming Start Action yang berarti mengajak orang untuk berhenti bermimpi, kemudian memulai tindakan untuk beraksi bekerja, memang tidak cocok di Negeri Begajul sebab di negeri ini jangankan bekerja untuk bermimpi pun sudah kepayahan, lantaran gempa keuangan yang nantinya tidak memiliki ujung penyelesaian yang memuaskan banyak pihak, terutama pihak yang tidak di bail out…

Jika konten adalah raja dari sebuah blog, maka backlink adalah bagaikan permaisuri yang mengitarinya, tentunya sebagai raja yang gagah haruslah diiringi dengan para permaisuri yang cantik jelita, matang dan berprestasi, itulah gambaran ganjil dari sebuah trik untuk bisa diakrabi dan dihormati oleh mesin pencari. Sebagaimana kontes banter-banteran dan okeh-okehan nyepam yang banyak dilakukan oleh para kontestan, mungkin ini adalah strategi yang sangat mencengangkan pula.

Algorithma google mungkin juga sudah di publish dan diketahui oleh para peserta kontes SEO, namun nantinya jika mesin pencari mulai mengandalkan ilmu semantik, seperti yang sudah dilakoni oleh bing, mungkin strategi nantinya juga akan berubah dan tentunya akan segera terpecahkan pula oleh kecerdasan para siluman maya kasat mata yang selalu bergentayangan.

Salam dan sukses buat para pemenang kontes SEO Stop Dreaming Start Action.

Dipublikasi di living | Tag , | 1 Komentar

mengapa mudik?

Barangkali adalah sebuah pertanyaan tolol, tapi memang kalo hidup di kota lain pastilah merindukan kota tempat tinggal tempat kelahiran bersama kedua orangtua tercinta. Dan lagi memang kalo sedang musim maka di kota besar yang biasanya ramaipun akan menjadi sepi karena ditinggal mudik para penduduknya.

Lebih enak mudik, bayangkan saja ketika berlebaran di betawi, susah amat, mau cari makan sulit maupun belanja, semuanya tutup seakan menjadi kota pensiunan. Menjadikan mudik sebagai hiburan dan juga banyak hal positif yang bisa dilakukan. Bukankah memang mudik sebagian dari Stop Dreaming Start Action, aksi menuju refleksi diri yang memang sangat menyegarkan terlebih jika bertemu dengan para sahabat yang lama tidak bersua.

Sejuknya udara kampung untuk melaksanakan sholat idul fitri, makanan khas buatan dapur uh…. sangat enak

Dipublikasi di living | Tag | 1 Komentar

bumihangus kemiskinan

Ketika sudah tidak bisa lagi untuk memaafkan kemiskinan, setelah jauh dan lelah berusaha. Tentunya harus mengakrabinya dengan tulus hati dan keikhlasan, hal ini berlaku untuk yang memiliki kemiskinan itu sendiri, namun bagi mata yang memandangnya tentunya sangat berlainan sekali. Karena kemiskinan dekat sekali dengan kekumuhan, doza, zina dan lanin sebagainya namun dalam kelas rendah sesuai ketidakkuatan untuk mengobati penyakit seksualnya sendiri lantaran selingkuh gratis dengan janda tetangga sebelah rumah.

Mengapa harus mengakrabi dan memaafkan kemiskinan, ketika semuanya sudah tidak bisa dilakukan lagi. Social enggineering tools pun seakan hanya berguna diatas kertas namun pada prakteknya semuanya sudah tidak bisa dilakukan lagi, sehingga di kalangan kelas sosial diatasnya yang hampir saja miskinpun akan berebut bantuan, maka akan muncullah adu miskin ketika banyak bantuan dan hibah datang dari negara sendiri ataupun negara lain. Akan berlomba-lomba untuk kaya dan sejahtera ketika ada kontes untuk keindahan dan kesejahteraan. Sungguh luar biasa ketika semua saling membumihanguskan hanya untuk sekedar citra semata. Bahkan slogan cinta untuk mengembalikan jati diri bangsa tidak pernah terdengar atau muncul ke permukaan karena sudah terlalu akrab dengan slogan bumi hangus dan suka bumi.

Akankah slogan semacam Rusli Zainal Sang Visioner bisa membawa berkah untuk orang banyak, sehingga kau miskin kota maupun desa dengan mantap mengatakan siapa Rusli Zainal Sang Visioner, ya dialah sang penolong seperti apa yang selalu hilang dalam peringatan Hari Anak Nasional 2009 dan bahkan yang tahun depan, bagaimana tidak ketika ada upacara kenegaraan di dalam gedung para wakil rakyat itupun lagu kebangsaan bisa kelupaan, oh memalukan…, apakah dengan berkaca pada hal seperti itu semangat bumi hangus hanya akan penuh dengan tindakan negatif bukan atas dasar semangat positif untuk mengajak semuanya sejahtera…. hmmm… sangat jauh memang ketika para bijak bestari pun harus memikirkan perutnya dengan hanya bermodalkan mulut dan angan-angannya saja yang diangankan dari kursi empuk dan alunan dingin segarnya pengatur udara di perpustakaan dan istananya.

Wahaha… saya menunggu ayam ketawa terbahak-bahak, atas apa yang menjadi sebuah keputusan untuk melarang pemberian hadiah atau sedekah khusus untuk si miskin, maafkanlah aduhai kemiskinan lahir dan maafkanlah ya tuhan atas kemiskinan bathiniah itu…, bukan saya tentunya…

Dipublikasi di thinking | 2 Komentar

Jargon Rusli Zainal Sang Visioner

Tokoh bervisi itu memiliki jargon RUSLI ZAINAL SANG VISIONER, tentulah harus di buktikan dengan kerja nyata, terbukti dengan terpilihnya RUSLI ZAINAL SANG VISIONER menjadi orang nomer satu di daerahnya. Dukungan rakyat seharusnya adalah suara dari kebutuhan yang harus didengar bukan harus diklaim sebagai pengakuan bahwa hanya dialah RUSLI ZAINAL SANG VISIONER.

Mungkin saja da pertanyaan nyinyir, apakah sebuah kesombongan ketika bisa mengadakan kontes blog RUSLI ZAINAL SANG VISIONER, berhadiah jutaan rupiah. Semoga hal ini tidak dan hanyalah sebuah syak wasangka sahaja. Dibalik kontes ini pastilah ada harapan positif yaitu untuk menjaring fungsi-fungsi dan penerjemahan visioner yang sebenarnya. Bahwa nantinya akan banyak masukan dari para blogger itulah harapan yang senyatanya juga harus bisa disuarakan oleh RUSLI ZAINAL SANG VISIONER.

Semoga para kontestan juga memiliki visi dan pandangan yang jauh terhadap perkembangan dan perpolitikan di Indonesia. Khususnya di Riau bagaimanapun Komunitas Blogger Bertuah sebagai penyelenggara memiliki pertimbangan tertentu sehingga mau dan mengangkat kontes blog RUSLI ZAINAL SANG VISIONER, ke aras dunia maya di Indonesia, maju terus para kontestan RUSLI ZAINAL SANG VISIONER.

Dipublikasi di thinking | Tinggalkan Komentar

melawan kok dengan teror

Noordin M Top dan anak buahnya tentunya bukan orang yang memiliki jati diri kemanusiaan yang mapan. Mengapa? karena hasrat untuk membunuh, meski untuk kepentingan bla bla bla, semuanya tidak lebih akan hilang laksana kemarau setahun yang di hilangkan oleh hujan sehari. Niat baik itu untuk melawan setan akan hilang dan musnah ketika harus membunuh sekawanan orang tak berdosa.

Melawan sistem haruslah dengan memberikan idea dan solusi yang lebih mumpuni. Tiada pernah para pahlawan memberikan contoh jelek, mungkin perbuatan memubunuh musuh itu dilakukan karena ancaman. Namun para pahlawan itupun memiliki solusi yang baik yang bisa kita contoh karena tumbuhnya jati diri bangsa. Maka para pahlawan nasional bukanlah sama dengan terorisme saat ini.

Dipublikasi di thinking | 1 Komentar

anehnya koneksi dhuafa

Keanehan koneksi Indosat M2 yang menjengkelkan terjadi lagi yaitu sering kembali lagi pada permintaan register 3g ketika akun sudah mendekati atau kehabisan kuota, seperti seorang penagih hutang yang kelaparan dan mau mati, sehingga menagih dengan gila dan mengharap agar segera dibayar. Seharusnya perusahaan atau provider yang memiliki mesin yang canggih sudah otomatis menurunkan kecepatan tanpa harus cerewet meminta perhatian seperti itu.

Atau yach seperti dulu aja putus konek putus konek. Sudah kental niat ini untuk segera berpindah ke lain provider karena meski dengan harga pulsa seratus rebu perak itu prakteknya ketika beli pulsa lebih dari itu. Jadi semakin aneh saja semoga provider satu ini segera angkat kaki dari negeri ini entah bagaimana caranya, semoga kalo bangkrut ya bangkrut beneran bukan hanya di laporan keuangannnya saja. Atau lebih baik mawas diri dahulu, daripada memberikan kelucuan yang bikin dongkol seperti itu, karena bagaimanapun juga koneksi tetap dipergunakan sebaik-baiknya, meski nantinya banyak pemakainya yang mungkin kena serangan tekanan darah tinggi karena layanannya yang tidak friendly dengan emosi.

Tips untuk agar koneksi IM2 tidak terlalu bloon adalah dengan mengganti DNS dengan OpenDNS atau DNS dari provider lain yang lebih mempercepat loading halaman, entah hitungannya gimana dengan hal ini juga tidak jelas, karena toh bandwith juga dari yang terhormat provider IndosatM2 tersebut, so lebih enaknya memang beli yang time based, tapi ya rasakan saja nanti tagihannya hahahaha….

Informasi dan tehnologi semakin mudah didapatkan. Hal ini akan memberikan kenyamaan bagi para pemakainya. Sungguh ketika sebuah pemutar video hanya berbentuk kecil dengan bisa diisi ratusan gigabye film, adalah sebuah gerakan tersendiri yang tidak kita rasakan secara sadar, entah apa lagi nantinya. Sesuatu yang beberapa saat lalu sangat sulit dilakukan bahkan diakses akan menjadi lebih mudah serta murah. Sisi positif dan negatif dari hal ini sangatlah sulit untuk dibedakan karena lebih banyak positifnya pada kasus-kasus kemudahan dan alat bantu kegiatan sehari-hari.

Marilah sebelum terlalu jauh kita mencoba mawas diri tentang arah dan kejadian kejadian saat ini. Globalization yang sedang melanda saat sekarang ini bukanlah hanya akan menelorkan jebakan-jebakan baru, bagi perkembangan jati diri kemanusiaan, namun akan lebih berdampak pada perkembangan kemasyarakatan bahkan kebangsaan. Globalization akan mengubah segalanya, menggerus sendi-sendi lokalitas, mengubah dunia bahkan harus berdiri banyak badan-badan untuk menjaga cagar budaya baik bangunan maupun alam.

Sepertinya memang semuanya tidak akan mudah terelakkan disana semuanya harus rela bahkan semua usaha-usaha untuk mengembalikan jati diri bangsa pun harus mulai berkompromi dengan hal itu. Tidak lain tidak bukan kelahiran anak-anak kita akan membawa perubahan sedikit demi sedikit, tanpa bisa terelakkan semuanya akan melabur menjadi sebuah dunia baru, alam pikir baru, dan pada akhirnya semua hanya bisa meratapi masa lalu, sebuah sejarah yang sangat sulit dijangkau kembali kecuali munculnya para pemimpin-pemimpin baru ke arah sana.

Arah yang jelas menjangkau ke depan, ke belakang, ke seluruh arah penuh dengan keadilan dan kebajikan. Tiada harapan untuk dapat kembali seratus prosen sebab semua harus selalu berkembang, meski semuanya itu maya namun permukaan itu nantinya akan menjadi sebuah kedalaman dalam waktu yang akan datang. Sebagaimana konteks keIndonesiaan seiring masuknya bangsa-bangsa asing baik dari Arab hingga Eropa, dari Argentina hingga Kanada, semuanya hanya akan membawa budaya perifer, tidak akan menyentuh jati diri bangsa, namun secara tidak sadar semuanya akan berubah dengan sendirinya. Apakah ini sebuah kelemahan ataukan sebuah kekuatan demi masa depan kita semuanya.

Begitulah bagaimanapun juga diperlukan cinta untuk mengembalikan jati diri bangsa. Bahwa hanya cintalah yang dapat mengembalikan itu semua meski berdoa dan segera melaksanakan titah mengapa stop dreaming start action, demi kelanggengan hidup kemanusiaan. Amin.

Dipublikasi di thinking | Tinggalkan Komentar

Bara kompetisi

Berpikir untuk maju dalam menggapai masa depan adalah menjadi suatu keharusan disamping memang begitulah jati diri dan tugas sebagai manusia. Karunia otak kecerdasan di dampingi dengan kelembutan dan luasanya nuansa rasional dari hati akan menjadi cakrawala dalam mengelola dan mewujudkan sesuatu yang muncul di otak sebagai daya cipta. Karsa dalam hati menjadi sebuah rem seharusnya bukannya menjadi tonggak untuk berbuat nekat senekat para bomber dengan tubuhnya itu. Entah apa yang ada dalam pemikiran dan hatinya rasanya mereka sudah bukan lagi seonggok darah dan daging sebagaimana manusia pada umumnya. Lanjutkan membaca

Dipublikasi di thinking | 1 Komentar

Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke-32 Menata Masa Depan Nahdlatul Ulama

Pernyataan Pers Halaqah Nasional Warga Nahdlatul Ulama

“Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke-32 Menata Masa Depan Nahdlatul Ulama”

Kempek, Cirebon, 7 Agustus 2009

Nahdlatul Ulama pada awal didirikannya, dimaksudkan menjadi gerakan sosial keagamaan yang memberi perhatian terhadap masyarakat kecil dan kemandirian Pesantren. Khittah Nahdlatul Ulama yang kembali diteguhkan pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-27 di Situbondo, sebagai gerakan sosial keagamaan, akhir-akhir ini mengalami penumpulan dan pendangkalan gerak dan moral, sehingga peran Nahdlatul Ulama menjadi kurang berarti di level akar rumput masyarakat Nahdlatul Ulama sendiri dan di tengah kebangsaan Indonesia.

Faktanya, mulai terjadi sisnisme terhadap Nahdlatul Ulama, justru oleh para warga Nahdlatul Ulama yang disebabkan oleh elit-elit dan Nahdlatul Ulama yang tidak mengurusi masalah-masalah riil masyarakat, dan cenderung berfungsi untuk meraih jabatan politik kekuasaan yang sesaat. Mempertimbangkan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai kebangkitan para ulama di dalam masyarakat dan kebangsaan Indonesia, maka kebangkitan yang dipelopori ulama perlu menjadi menampakka watak: keulamaan yang konsen dengan masyarakat dan rakyat bawah; dan konsen terhadap masalah-masalah kebangsaan; bukan membawa Nahdlatul Ulama ke kancah politik praktis. Peran ini penting, karena tantangan globalisasi dan fundanmentalisme islam dari kelompok-kelompok tertentu menambah gerak organisasi ulama yang bernama Nahdlatul Ulama semakin limbung.

Untuk selengkapnya tentang Pernyataan Pers Halaqah Nasional Warga Nahdlatul Ulama.

Dipublikasi di living, thinking | Tag | 1 Komentar