Pernyataan Pers Halaqah Nasional Warga Nahdlatul Ulama
“Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke-32 Menata Masa Depan Nahdlatul Ulama”
Kempek, Cirebon, 7 Agustus 2009
Nahdlatul Ulama pada awal didirikannya, dimaksudkan menjadi gerakan sosial keagamaan yang memberi perhatian terhadap masyarakat kecil dan kemandirian Pesantren. Khittah Nahdlatul Ulama yang kembali diteguhkan pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-27 di Situbondo, sebagai gerakan sosial keagamaan, akhir-akhir ini mengalami penumpulan dan pendangkalan gerak dan moral, sehingga peran Nahdlatul Ulama menjadi kurang berarti di level akar rumput masyarakat Nahdlatul Ulama sendiri dan di tengah kebangsaan Indonesia.
Faktanya, mulai terjadi sisnisme terhadap Nahdlatul Ulama, justru oleh para warga Nahdlatul Ulama yang disebabkan oleh elit-elit dan Nahdlatul Ulama yang tidak mengurusi masalah-masalah riil masyarakat, dan cenderung berfungsi untuk meraih jabatan politik kekuasaan yang sesaat. Mempertimbangkan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai kebangkitan para ulama di dalam masyarakat dan kebangsaan Indonesia, maka kebangkitan yang dipelopori ulama perlu menjadi menampakka watak: keulamaan yang konsen dengan masyarakat dan rakyat bawah; dan konsen terhadap masalah-masalah kebangsaan; bukan membawa Nahdlatul Ulama ke kancah politik praktis. Peran ini penting, karena tantangan globalisasi dan fundanmentalisme islam dari kelompok-kelompok tertentu menambah gerak organisasi ulama yang bernama Nahdlatul Ulama semakin limbung.
Untuk selengkapnya tentang Pernyataan Pers Halaqah Nasional Warga Nahdlatul Ulama.
ahlusunah wal jamaah
an nadliyah